RINGKASAN SEMINAR
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Hutan rakyat merupakan hutan yang berada pada tanah yang dibebani
hak milik dan dikelola oleh rakyat. Manfaat utama dari hasil hutan rakyat
adalah penyediaan pasokan kayu rakyat. Hutan rakyat juga merupakan solusi
komprehensif dan permanen yang secara ekologi akan mampu mengembalikan fungsi
konservasi tanah dan air, sekaligus secara ekonomi mampu meningkatkan
kesejahteraan, menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja.
Menurut
Ditjen RLPS (2009) dalam media persaki, produksi kayu nasional saat ini
mencapai 43.655.101 m3, dimana kontribusi produksi dari hutan rakyat
mencapai 3.289.659 m3 atau 7,50 % dari pasokan keseluruhan. Dinas
Kehutanan Propinsi Jawa Barat (2007) menyebutkan Ppoduksi kayu yang dihasilkan
dari hutan rakyat di Jawa Barat tersebut menunjukkan trend meningkat dari 23.784,90 m3 pada tahun 2003
menjadi 447.319,94 m3 pada tahun 2006 (Dishut Jabar). Produksi kayu rakyat ini mampu memenuhi 70-90 % kebutuhan
kayu bangunan di Jawa.
Pesatnya perkembangan hutan rakyat di pulau Jawa dipicu oleh
tingginya permintaan kayu sengon untuk industri. Sengon yang memiliki
karakteristik cepat tumbuh mudah beradaptasi di berbagai kondisi tanah. Karakteristik
silvikulturnya yang bagus, kualitas kayunya yang dapat diterima untuk industri
panel dan kayu pertukangan, serta harga jualnya yang relatif menguntungkan
membuat pasar kayu sengon masih bertahan hingga saat ini. Melihat potensi
sengon yang demikian besarnya, penulis ingin mengetahui karakteristik tegakan
sengon di hutan rakyat dengan memperhatikan beberapa aspek yang meliputi ketinggian
tempat, kelerengan, dan luas kepemilikan lahan.
Desa Tonjongsari memiliki luas dan hasil produksi hutan rakyat
jenis sengon yang cukup potensial untuk lebih dikembangkan. Hal itu mendorong
peneliti untuk mencoba mengkaji lebih jauh kondisi hutan rakyat sengon tersebut
melalui judul penelitian Karakteristik Tegakan Hutan Rakyat Sengon di Desa
Tonjongsari, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
1.2 Tujuan
Penelitian
Penelitian ini bertujuan menghitung
potensi hutan rakyat di Desa Tonjongsari, mempelajari karakteristik tegakannya
melalui pendekatan kurva Poisson, mempelajari karakteristik produksi tegakan
yang didasarkan pada faktor ketinggian tempat, kelerengan lahan, dan strata
luas kepemilikan, serta mempelajari kondisi pengelolaannya.
1.3 Manfaat
Penelitian
Kesimpulan dari hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi positif dalam usaha meningkatkan pengembangan hutan
rakyat di Desa Tonjongsari.
II METODE
PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan
penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2012 dengan mengambil
lokasi penelitian di Desa Tonjongsari, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat.
2.2 Alat dan Bahan Penelitian
Bahan
dan peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta wilayah dan
dokumen lain yang berkaitan dengan lokasi penelitian, kamera untuk dokumentasi
dan obyek guna kelengkapan penyusunan laporan, peralatan tulis, kalkulator,
meteran, tegakan hutan rakyat, alat pengukur diameter pohon (pita ukur), alat
pengukur tinggi pohon (hagahypsometer),
altimeter, perangkat keras (hardware) berupa seperangkat komputer, serta
perangkat lunak (software) berupa program-program komputer untuk
mengolah data seperti Microsoft Office Word 2007, Microsoft Office
Excel 2007, dan SPSS.
2.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan
pengukuran tegakan sengon secara langsung di lapangan dan wawancara terstruktur
mengenai karakteristik pelaku hutan rakyat dan karakteristik pengelolaan hutan
rakyat. Data sekunder yang diperlukan meliputi studi pustaka berupa buku,
jurnal, makalah, dan lain-lain, serta data yang menyangkut data lingkungan
secara fisik dan data sosial ekonomi masyarakat setempat yang dapat diperoleh
melalui kantor pemerintahan setempat dan literatur.
2.4 Metode Pengambilan Sampel
Penentuan
plot contoh yang berada di Desa Tonjongsari dilakukan secara sengaja (purpossive) terhadap rumah tangga tani
yang memiliki usaha hutan rakyat berdasarkan ketinggian, kelerengan, dan strata
luas kepemilikan lahan. Peneliti menentukan ketinggian tempat dan kelerengan
menjadi dua kelas, yaitu ketinggian 50-70 mdpl dan ketinggian 90-110 mdpl,
serta kelerengan 0-15% dan kelerengan 25-45%.
Pembagian strata pemilikan lahan Kartasubrata (1986) dalam Riva (1997)
yang disunting oleh Suharjito (1998) yaitu strata I dengan pemilikan lahan
lebih dari 0, 50 ha, strata II dengan pemilikan lahan antara 0, 25 – 0, 50 ha,
serta strata III dengan pemilikan lahan kurang dari 0, 25 ha.
Dari
kombinasi ketiga faktor diatas, maka didapatkan 12 kelas lahan. Untuk setiap
kelas lahan I, II, dan III masing-masing akan dibuat 3,5, dan 8 plot contoh
berbentuk lingkaran dengan luas 0,1 hektar sehingga total unit contoh sebanyak
64 plot.
Responden
yang dipilih merupakan pemilik hutan rakyat yang telah memenuhi 12 kriteria
kelas lahan sehingga didapatkan total responden dari 64 plot contoh sebanyak 64
orang.
2.5 Metode
Pengolahan dan Analisis Data
2.5.1 Penentuan Kelas Diameter
Penelitian
karakteristik tegakan hutan rakyat sengon di Desa Tonjongsari menggunakan tujuh kelas diameter, yaitu kelas
diameter I (d < 5 cm), kelas diameter II (d = 5-10 cm), kelas diameter III
(d = 10-15 cm), kelas diameter IV (d = 15-20 cm), kelas diameter V (d = 20-25
cm), kelas diameter VI (d = 25-30 cm), serta kelas diameter VII (d > 30 cm).
2.5.2 Pembuatan Kurva Karakteristik
Hutan Rakyat Sengon
Untuk
mengetahui struktur tegakan sengon di Desa Tonjongsari dilakukan pendekatan
melalui persamaan distribusi eksponensial negatif (negative exponential distribution), yang didasarkan pada
perbandingan pengurangan jumlah pohon yang tetap sejalan dengan pertambahan
diameter yang merupakan ukuran standar kenormalan pada tegakan tidak seumur,
rumus tersebut adalah sebagai berikut (Husch, 2003):
N = k e –a d
Keterangan :
N = jumlah pohon per hektar
per kelas diameter
d =
kelas diameter
e = angka dasar logaritma (2,7183)
k = konstanta yang menunjukkan ciri
kerapatan pohon per hektar
a = nilai yang mencirikan slope dari
kurva, yaitu garis yang menggambarkan
laju penurunan jumlah batang seiring
bertambahnya kelas diameter
k dan a = nilai yang menunjukkan karakteristik model
hutan tidak seumur
Selanjutnya
untuk mengetahui karakteristik tegakan sengon berdasarkan ketinggian tempat,
kelerengan lahan, dan strata luas kepemilikan lahan digunakan uji anova satu
arah, dengan hipotesa sebagai berikut :
Ho :
Tidak ada perbedaan signifikan dari segi jumlah batang
H1 : Ada
perbedaan signifikan dari segi jumlah batang,
Dengan
kriteria uji :
Tolak H0
jika Sig < = 0,05
Terima
H0 jika Sig ≥ = 0,05
2.5.3
Pendugaan Potensi Tegakan Hutan Rakyat
Volume
pohon :
y = ¼ π x d2 x t x f
Volume tegakan per
plot :
Volume tegakan per plot
Volume tegakan per
hektar :
Nilai
tengah/rata-rata populasi (μ) :
diduga oleh rata-rata contoh :
Ragam
populasi (
) :
diduga oleh ragam contoh :
Ragam
rata-rata contoh (
) :
Simpangan
baku rata-rata contoh (
) :
Selang
kepercayaan (1-a).100% bagi nilai
tengah/rata-rata populasi :
Penduga
total populasi (
) :
Penduga
ragam total populasi (
) :
Selang
kepercayaan (1-a).100% bagi total populasi :
Kesalahan
sampling (sampling error, SE) :
3.5.4 Metode Analisis Kondisi Pengelolaan Hutan
Rakyat Desa Tonjongsari
Data kualtitatif
mengenai kondisi pengelolaan hutan rakyat di Desa Tonjongsari akan diolah
berdasarkan analisa deskriptif.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Potensi
Tegakan Sengon di Desa Tonjongsari
Potensi
tegakan sengon Desa Tonjongsari rata-rata per hektar sebesar 112,88 m3/ha
dengan nilai sampling error sebesar
18,06 %. Rata-rata potensi tegakan sengon berada diantara selang 92,49 m3/ha
dan 133,27 m3/ha. Potensi tersebut berada di bawah potensi rata-rata menurut Sumarna dalam
Krisnawati (2011) yang menyebutkan bahwa pada tempat tumbuh yang berkualitas bagus di
Indonesia, sengon dapat mencapai volume produksi sebesar 403 m3/ha
sampai akhir rotasi. Pada tempat tumbuh berkualitas sedang, volume produksi
sengon dapat mencapai 350-400 m3/ha termasuk hasil penjarangan. Pada
tempat tumbuh berkualitas rendah, total volume produksi dalam delapan tahun
adalah sekitar 313 m3/ha. Rendahnya potensi di Desa Tonjongsari
tersebut karena saat dilakukan pengukuran, tegakan belum mencapai akhir daur.
3.1.1 Potensi
Tegakan Berdasarkan Ketinggian Tempat dan Kemiringan Lahan
Potensi tegakan sengon terbesar berada
pada ketinggian antara 90-110 mdpl dengan rata-rata produksi 129,62 m3/ha,
sedangkan pada ketinggian antara 50-70 mdpl sebesar 96,14 m3/ha.
Potensi tegakan sengon pada kelas
kemiringan 0-15 % sebesar 117,29 m3/ha, sedangkan kelas kemiringan
25-45 % sebesar 108,47 m3/ha. Masyarakat di Desa Tonjongsari tidak
mempertimbangkan ketinggian dan kemiringan lahan, meskipun berada di ketinggian lebih dari 100
m, lahan tersebut masih ditanami dengan jumlah pohon dan pemeliharaan yang sama
dengan pohon yang ditanam pada ketinggian kurang dari 100 m. Kesulitan dalam
mengakses lokasi untuk keperluan penanaman maupun pemanenan juga tidak
diperhitungkan oleh masyarakat. Hal terpenting bagi mereka adalah bagaimana
memaksimalkan lahannya dengan menanami jenis kayu dan jenis pertanian untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan mendatang. Faktor penyebab
perbedaan potensi antara ketinggian 90-110 mdpl dengan ketinggian 50-70 mdpl
adalah umur pohon. Umumnya, plot di ketinggian 90-110 mdpl memiliki volume
lebih besar karena berumur lebih tua dari tegakan sengon di ketinggian 50-70
mdpl.
3.1.2 Potensi Tegakan Berdasarkan Strata Luas
Kepemilikan Lahan
Rata-rata
potensi tegakan sengon tiap plot pada strata I, strata II, dan strata III
masing-masing adalah 85,11 m3/ha, 136,48 m3/ha, dan
108,55 m3/ha. Perbedaan ini terlihat cukup signifikan. Strata luas
kepemilikan lahan II merupakan strata dengan potensi tegakan sengon paling
tinggi. Penyebab tingginya potensi ini disebabkan oleh jarak tanam yang lebih
rapat sehingga jumlah pohon yang dihasilkan lebih banyak dari strata luas
kepemilikan lahan I. Potensi strata luas kepemilikan III lebih rendah daripada
strata luas kepemilikan II karena kebanyakan pemilik lahan strata III tidak mengatur jarak tanam, mereka hanya
menanam di sela-sela tanaman pertaniannya.
3.2 Karakteristik Tegakan Hutan
Rakyat di Desa Tonjongsari
3.2.1 Karakteristik Tegakan Sengon Melalui Pendekatan
Kurva Poison
Jumlah
pohon pada kelas diameter I, kelas diameter II, kelas diameter III, kelas
diameter IV, kelas diameter V, kelas diameter VI, dan kelas diameter VII setiap
hektar masing-masing secara berurutan 196 pohon, 323 pohon, 190 pohon, 103
pohon, 43 pohon, 25 pohon, dan 15 pohon. Pada kelas diameter II jumlah pohon
yang dihasilkan lebih tinggi dari kelas diameter I. Hal ini kemungkinan karena
masyarakat melakukan penanaman dalam kurun waktu 2-3 tahun terakhir sehingga
pohon yang berdiameter kurang dari 5 cm lebih sedikit ditemui saat dilakukan
pengukuran. Supaya kelestarian hasil dengan pendekatan jumlah pohon dapat
dicapai, maka petani hutan rakyat harus menambah penanaman bibit baru untuk memperbaiki
regenerasi tegakan sengon di Desa Tonjongsari.
Model atau
persamaan yang digunakan adalah model pangkat yang menyatakan hubungan antara
kelas diameter sebagai peubah bebas/penduga (X) dengan jumlah pohon sebagai
peubah respon (Y) melalui persamaan N =
ke-ad. Dari hasil perhitungan didapat nilai k sebesar 475,4 dan nilai a
sebesar -0,10. Nilai konstanta k
menggambarkan bahwa tegakan sengon di Desa Tonjongsari lebih didominasi oleh
pohon berdiameter kecil. Nilai minus (-) pada nilai a merupakan slope negatif
yang menandakan bahwa jumlah pohon berbanding terbalik dengan kenaikan kelas
diameter. Setelah nilai k dan a didapatkan, maka model alometrik dapat
dibentuk, yaitu N = (475,4)e-0,10d.
Rasio
jumlah pohon untuk masing-masing kelas diameter dinotasikan 196(q1), 323(q2),
190(q3), 103(q4), 43(q5), 25(q6),
15. Hasil perhitungan aktual q1,
q2, q3, q4,
q5, dan q6 berturut-turut 0,61; 1,70;
1,84; 2,40; 1,72; dan 1,67. Hasil perhitungan secara matematis, didapat nilai q sebesar 1,1. Menurut Meyer (1952)
dalam Davis et al (1987), nilai q yang didapatkan secara matematis
merupakan nilai rasio normal untuk tegakan hutan tidak seumur yang tidak
terganggu. Oleh karena itu, adanya variasi nilai q pada tegakan hutan rakyat sengon di Desa Tonjongsari merupakan
suatu kewajaran karena tegakan tersebut tidak dapat terlepas dari campur tangan
manusia dalam pengelolaannya.
Gambar
1 Kurva Hubungan antara Jumlah Pohon per
Hektar dengan Kelas Diameter
Gambar 1 menunjukkan bahwa struktur
tegakan di hutan rakyat Desa Tonjongsari secara umum menggambarkan sebaran
normal tegakan hutan tidak seumur (uneven-aged
forest) yang berbentuk kurva huruf “J”
terbalik. Karakteristik tersebut menyerupai karakteristik tegakan di hutan
alam. Model alometrik tersebut memiliki koefisien
determinasi sebesar 90,3% yang berarti bahwa sebesar 90,3% dari keragaman
jumlah pohon dapat dijelaskan oleh kelas diameter dengan baik.
3.2.2 Karakteristik Tegakan Sengon
Berdasarkan Faktor Ketinggian Tempat, Kemiringan Lahan,
dan Strata Luas Kepemilikan
Lahan
Berdasarkan faktor ketinggian tempat,
kelerengan lahan, dan strata luas kepemilikan lahan, maka pada ketinggian 50-70
mdpl dan 90-110 mdpl, jumlah pohon pada berbagai kelas diameter menunjukkan trend menurun mulai dari kelas diameter
II sampai kelas diameter VII. Pada kemiringan 0-15 % dan kemiringan 25-45 %,
jumlah pohon pada berbagai kelas diameter juga menunjukkan trend menurun mulai dari kelas diameter II sampai kelas diameter
VII. Seperti halnya berdasarkan faktor kemiringan dan ketinggian, pada faktor
strata luas kepemilikan lahan, baik strata I, strata II, maupun strata III juga
menunjukkan adanya variasi jumlah pohon pada berbagai kelas diameter dan trend menurun mulai dari kelas diameter
II sampai kelas diameter VII.
Hubungan antara faktor ketinggian,
kelerengan, serta strata luas kepemilikan lahan terhadap sediaan tegakan sengon
di Desa Tonjongsari dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Hubungan
Faktor Ketinggian,
Kelerengan, & Strata Kepemilikan Lahan terhadap Jumlah Pohon
|
Source
|
Sig.
|
|
|
Ketinggian
Tempat
|
0.633
|
|
|
Kelerengan
Lahan
|
0.507
|
|
|
Strata Luas Kepemilikan
Lahan
|
0.010
|
|
|
Ketinggian
Tempat * Kelerengan Lahan
|
0.096
|
|
|
Ketinggian
Tempat * Strata Luas Kepemilikan Lahan
|
0.170
|
|
|
Kelerengan
Lahan * Strata Luas Kepemilikan Lahan
|
0.801
|
|
|
Ketinggian
Tempat * Kelerengan Lahan * Strata Luas Kepemilikan Lahan
|
0.064
|
|
|
|
||
Dari hasil pengolahan data
didapatkan nilai R Squared sebesar 0,316
artinya sebanyak 31.6% sediaan tegakan (jumlah batang per hektar)
dapat dijelaskan oleh ketinggian tempat, kelerengan lahan, dan strata luas
kepemilikan lahan di dalam model, sisanya 68.4% dijelaskan oleh faktor lain di
luar model.
Dari hasil di atas terlihat bahwa hanya
pengaruh faktor strata luas kepemilikan lahan yang signifikan (memberikan
pengaruh yang berbeda) terhadap jumlah pohon dengan nilai peluang nyata sebesar
0.01 pada taraf nyata 0.05, oleh karena p-value
< 0,05. Sedangkan faktor ketinggian tempat, kelerengan lahan, serta
kombinasi dari dua faktor tersebut dengan strata luas kepemilikan lahan tidak
memberikan pengaruh yang berbeda nyata karena p-value > 0.05.
Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan kondisi
pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh pemilik lahan. Pemilik lahan
strata I umumnya melakukan pengelolaan di lahannya dengan lebih terencana dan
sistematis. Hal itu dapat dilihat dari proses pemilihan bibit unggul, adanya
sulaman untuk memperbesar persen tumbuh, adanya pemupukan, pengaturan jarak
tanam, sampai kegiatan penjarangan. Pemilik lahan dengan luas lebih dari 0.50
ha juga memperhatikan kondisi bibit yang ditanam, tentunya kondisi bibit
terbaiklah yang akan ditanam di lahannya. Jarak tanam yang biasa digunakan oleh
pemilik strata I antara lain 3 m x 3 m, 3 m x 5 m, serta 5 m x 5 m, sedangkan
pemilik lahan dengan strata II dan III biasanya menanami lahannya dengan jarak
tanam yang tidak beraturan dan lebih rapat dari strata I. Oleh karena itu,
umumnya jumlah pohon pada lahan diatas 0.50 ha lebih sedikit dibandingkan
jumlah pohon pada strata II dan III. Namun, jumlah pohon pada strata II dan III
lebih bervariasi setiap kelas diameternya. Variasi ini disebabkan oleh tidak
meratanya umur penebangan yang dilakukan oleh pemilik lahan. Beberapa pemilik
akan menjual sebagian pohon untuk memenuhi kebutuhan mendadak. Pohon yang tidak
ditebang akan dibiarkan membesar hingga pemilik membutuhkan uang tambahan untuk
memenuhi kebutuhannya, tetapi jika pemilik belum membutuhkan uang, pohon
berdiameter besar akan banyak ditemui. Bekas pohon yang ditebang biasanya akan
mereka tanam kembali dengan bibit baru dan ada pula yang membiarkan tunggak
pohon yang telah ditebang hingga tumbuh kembali.
Selanjutnya
karena strata luas kepemilikan lahan memberikan pengaruh yang berbeda maka akan
diketahui lebih lanjut strata luas kepemilikan lahan yang manakah dari ketiga
strata yang memberikan pengaruh paling berbeda, untuk itu dilakukan uji lanjut
Duncan. Dari
hasil pengujian, ternyata yang memberikan pengaruh paling berbeda ialah strata
luas kepemilikan 1 dan strata luas kepemilikan 3. Perbedaan pengaruh tersebut
dipengaruhi oleh perbedaan kondisi pengelolaan yang dilakukan oleh pemilik
lahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
3.3 Kondisi Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa
Tonjongsari
3.3.1 Sejarah
Sengon awalnya diperkenalkan melalui
program Dinas Pertanian sekitar tahun 1987. Namun, program tersebut belum
menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap perkembangan hutan rakyat
sengon. Pada tahun 1990-an, salah satu warga, yakni Haji Pupud mulai menanam
jenis sengon di lahannya. Usaha hutan rakyat sengon tersebut ternyata
berkembang dan sukses. Bahkan, Haji Pupud kini telah memiliki usaha
penggergajian kayu sendiri. Melihat kesuksesannya, lambat laun masyarakat mulai
mencoba mengikuti usaha tersebut. Sebagian besar masyarakat yang memiliki lahan
kebun sudah mulai menanami lahannya dengan jenis sengon atau biasa masyarakat
setempat mengenalinya dengan istilah albiso. Hingga kini, bukan hanya sengon
saja yang ditanam, masyarakat juga mulai menanami lahan mereka dengan
jenis-jenis pohon kayu lainnya seperti mahoni.
3.3.2 Pola Hutan Rakyat
Hutan Rakyat di Desa Tonjongsari berbentuk
kebun campuran atau biasanya dikenal sebagai agroforestry. Agroforest
adalah struktur yang dibangun oleh masyarakat-masyarakat setempat dalam rangka
diversifikasi produksi, melengkapi produksi bahan pangan yang dihasilkan untuk
kebutuhan sendiri dari lahan tanaman semusim. Agroforest merupakan bagian dari sistem pertanian masyarakat,
petani tidak menganggapnya sebagai ‘hutan’ melainkan sebagai ‘ladang’ atau
‘kebun’ (de Foresta 2000).
Tanaman pertanian di Desa Tonjongsari
merupakan tanaman yang hasilnya dapat dipanen setiap hari atau setiap musim,
terdiri dari kelapa, pisang, kedondong, dan sawo. Jenis-jenis tanaman kehutanan
sengaja dibudidayakan untuk dimanfaatkan kayunya, yaitu sengon, mahoni, dan
jati. Jenis tanaman sengon dipilih karena disamping cepat untuk dipanen juga
memiliki harga jual yang cukup tinggi. Kebanyakan warga setempat
mengkombinasikan jenis sengon dengan kelapa. Sebelum sengon mulai
diperkenalkan, masyarakat terlebih dahulu menanam kelapa sehingga produk utama
dari daerah tersebut berupa kelapa, gula kelapa, serta olahan kelapa.
Secara ekologi, bentuk penanaman campuran
ini sangat menguntungkan karena kerentanan tegakan terhadap hama dan penyakit
serta kebakaran lebih rendah dibandingkan penanaman secara monokultur. Meskipun
terbilang sangat kecil jumlahnya, sistem monokultur juga diterapkan oleh
beberapa warga. Sistem ini biasanya dilakukan oleh pemilik lahan yang luas
(strata I) sehingga pendapatan yang dihasilkan dari pemanenan sangat besar dan
cukup untuk memenuhi kebutuhan setidaknya sampai panen selanjutnya. Selain itu,
warga setempat menanam dengan pola monokultur juga karena mereka memiliki
penghasilan dari sektor lain seperti toko, PNS, dan swasta sehingga mereka
tidak menggantungkan penghasilan dari lahannya saja.
3.3.3 Kelembagaan
Desa Tonjongsari memiliki organisasi
berupa kelompok tani yang salah satunya membawahi bidang perkebunan dan
kehutanan. Kelompok tersebut berperan sebagai penyalur bantuan pemerintah.
Hanya saja, sampai saat ini kelompok tani yang ada masih belum bisa
memfasilitasi masyarakat dalam penyediaan bibit dan pemasaran secara swadaya.
Masyarakat yang luas lahannya kecil hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah
untuk penyediaan bibitnya, sedangkan pemilik lahan yang luas biasanya
memperoleh bibit dari penjual bibit keliling. Mereka saat ini sedang
merencanakan pembuatan kebun bibit rakyat yang akan dikelola secara
gotong-royong. Menurut mereka, kendala utama untuk merealisasikan program
tersebut adalah modal.
3.3.4 Kegiatan Pengelolaan
3.3.4.1 Pengadaan Bibit
Masyarakat Desa Tonjongsari mendapatkan
bibit sengon dengan cara membeli dari penjual bibit sengon keliling. Selain
dari penjual keliling, masyarakat juga mendapatkan bibit sengon dari
pemerintah. Namun, jumlah bantuan bibit dinilai sangat kurang karena setiap
kepala keluarga hanya mendapatkan sekitar 10 bibit. Masyarakat sendiri
sebenarnya ingin mempunyai kebun pembibitan. Di bawah kelompok tani, kebun
pembibitan akan dikelola bersama. Namun, keinginan tersebut masih berupa wacana
karena terkait kendala modal. Masyarakat berharap pemerintah bersedia
memberikan bantuan berupa modal kepada kelompok tani mengingat hutan rakyat di
Desa Tonjongsari cukup berpotensi untuk dikembangkan.
3.3.4.2 Persiapan Lahan dan Penanaman
Persiapan lahan tersebut dilakukan dengan
cara membersihkan semak atau rumput-rumputan di daerah yang akan ditanami
sengon. Pada sistem agroforestry,
masyarakat juga akan memperhatikan tanaman pertanian yang menjadi penghasilan
utamanya. Bibit sengon akan ditanam di sela-sela tanaman pertanian yang sudah
ada. Setelah itu, daerah yang akan ditanami akan dicangkul untuk membuat lubang
tanam. Kemudian, bibit sengon siap tanam yang berukuran sekitar 40-60 cm akan
diletakkan ke dalam lubang tanam tersebut. Dalam membuat lubang, jarak tanam
yang digunakan cukup bervariasi. Biasanya jarak tanam yang digunakan oleh
masyarakat adalah 3 m x 2 m, 2 m x 2 m, 3 m x 3 m, dan 5 m x 5 m. Namun, ada
juga yang menanamnya secara tidak beraturan karena disesuaikan dengan posisi
tanaman pertanian yang sudah ada sebelumnya.
Penanaman pada periode setelah penebangan
juga dilakukan hal yang sama, yaitu menanami kembali lahannya dengan bibit
baru. Namun, sebagian warga setempat ada yang sengaja tidak membuang tunggak
pohon sisa penebangan. tunggak pohon tersebut dibiarkan saja sampai tumbuh
batang baru dari tunggak tersebut. Menurut masyarakat, batang yang tumbuh dari
tunggak bekas tebangan lebih cepat tumbuh dan lebih kuat. Hal ini disebabkan
oleh jangkauan akar yang telah menyebar luas dan kokoh sehingga kerja
penyerapan nutrisi optimal. Hal ini menyebabkan batang yang tumbuh dari tunggak
lebih cepat daripada batang yang berasal dari bibit yang baru ditanam.
3.3.4.3 Pemeliharaan
Masyarakat setempat rata-rata menggunakan
pupuk NPK padat dan pupuk kandang untuk memupuk tanaman baru. Untuk membantu
proses pertumbuhan sengon, masyarakat memupuk sengon menggunakan serbuk
gergajian kayu. Selain itu, ada juga yang memberi serbuk batu zeolit untuk
dijadikan pupuk. Berdasarkan pengamatan secara langsung, tanaman yang dipupuk
menggunakan serbuk zeolit sangat bagus pertumbuhannya jika dibandingkan dengan
tanaman yang tidak dipupuk sama sekali. Namun, kebanyakan warga tidak memupuk
tanaman sengon kembali setelah penanaman. Bagi mereka, dirawat atau tidak,
sengon akan tetap tumbuh. Tingginya harga pupuk menjadi pertimbangan lain yang
diperhitungkan petani hutan rakyat, khususnya pemilik lahan strata III (luas
< 0,25 ha). Menurutnya, biaya produksi dengan pemakaian pupuk tidak
sebanding dengan harga jual kayu sengon.
3.3.4.4 Pemanenan
Masyarakat di Desa Tonjongsari menyerahkan
tegakan yang siap untuk ditebang kepada para tengkulak. Pemborong dapat memanen
pohon yang telah dibeli kapan pun. Bahkan, ada lahan milik salah satu warga
yang pohonnya telah dibeli sejak satu tahun lalu, tetapi masih belum ditebang
sampai saat ini. Hal ini tentu saja menyebabkan kerugian bagi pemilik lahan.
Setelah dilakukan penebangan, biasanya
pemborong langsung melakukan pemotongan batang dan pengelupasan kulit kayu di
lokasi penebangan. Setelah semuanya selesai, kayu dibiarkan di lokasi tersebut
selama berhari-hari sampai kayu kering dan siap diangkut. Limbah hasil
gergajian akan digunakan untuk pupuk, sedangkan kulit kayu akan digunakan
sebagai bahan bakar.
3.3.4.5 Pengangkutan
Kegiatan pengangkutan seluruhnya dilakukan
oleh pemborong, mulai dari kayu yang berada di dalam lahan sampai keluar dari
lahan petani. Alat yang digunakan untuk mengangkut biasanya berupa truk kecil
dan truk besar. Kayu yang baru ditebang akan diangkut menggunakan motor menuju
tempat pengumpulan kayu di pinggir jalan. Selanjutnya, kayu yang telah
dikumpulkan akan diangkut kembali menggunakan truk menuju industri pengolahan
kayu.
3.3.4.6 Pemasaran
Umumnya petani menjual hasil kayu
rakyatnya kepada tengkulak. Namun, ada pula masyarakat yang langsung membeli
kayu dari petani. Dalam hal ini, tengkulak berperan sebagai distributor (perantara).
Tengkulak akan mendatangi secara langsung lokasi hutan rakyat yang akan
diborong. Setelah terjadi kesepakatan, tengkulak akan mengambil alih keperluan
pemanenan sampai pengangkutan. Setelah itu, tengkulak akan mendistribusikan
kayu rakyat yang berupa kayu gelondongan
maupun kayu gergajian ke industri penggergajian, baik skala kecil maupun besar.
Di industri tersebut, kayu rakyat akan diolah menjadi kayu gergajian sesuai
dengan ukuran pertukangan. Kemudian barulah kayu rakyat akan sampai ke tangan konsumen
untuk memenuhi kebutuhannya.
3.3.5 Strategi Pengembangan Hutan
Rakyat di Desa Tonjongsari
Pengelolaan hutan rakyat di Desa
Tonjongsari bersifat swadaya sehingga modal yang digunakan untuk membangun
hutan rakyat atau kebun campuran menjadi tanggung jawab pemilik lahan
masing-masing. Usaha untuk meningkatkan permodalan sangat diperlukan dalam pengembangan
hutan rakyat di Desa Tonjongsari, usaha tersebut dapat diwujudkan melalui
pengembangan koperasi atau usaha pola kemitraan. Selain itu, rencana
pembentukan kebun bibit rakyat oleh bidang perkebunan dan kehutanan yang ada di
Desa Tonjongsari juga dapat mendongkrak kemandirian usaha apabila terealisasi.
Selain permasalahan modal, pengetahuan
masyarakat dalam pengelolaan hutan rakyat hanya berdasarkan pengetahuan lokal
yang biasa digunakan oleh keluarga secara turun temurun. Oleh karena itu, perlu
dilakukan program penyuluhan, pendidikan, dan latihan dari pemerintah atau
dinas terkait untuk meningkatkan pengetahuan petani hutan rakyat sehingga
kedepannya mereka bisa memperoleh pendapatan yang optimal dari produksi kayu
rakyat di lahannya.
IV.
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
1)
Potensi hutan rakyat di Desa Tonjongsari
sebesar 112,88 m3/ha dengan rentang nilai sebesar 92,49 m3/ha dan
133,27 m3/ha.
2)
Kondisi tegakan hutan rakyat sengon di
Desa Tonjongsari mengikuti persamaan N =
(475,4)e-0,10d dengan koefisien determinasi sebesar 90,3%. Hal
ini menunjukkan bahwa karakteristik tegakan hutan rakyat di Desa Tonjongsari
masih menunjukkan sifat normalnya pada tegakan hutan tidak seumur (uneven-aged forest) meskipun pada kelas
diameter I lebih sedikit jumlahnya daripada kelas diameter II. Oleh sebab itu,
diperlukan penanaman tambahan pada kelas diameter I untuk memperbaiki
regenerasi tegakan sehingga kelestarian hasil di Desa Tonjongsari dapat
dicapai.
3)
Diantara faktor ketinggian, kelerengan,
dan strata kepemilikan lahan, pengaruh yang paling signifikan terhadap sediaan
tegakan adalah strata luas kepemilikan lahan. Hal ini berkaitan erat dengan
perbedaan kondisi pengelolaan antara strata I, II, dan III.
4)
Sistem pengelolaan yang digunakan oleh
masyarakat setempat masih tradisional atau berdasarkan pengetahuan lokal,
artinya dikelola secara swadaya dengan teknik sederhana dan berdasarkan
pengetahuan yang diturunkan secara turun-temurun oleh nenek moyangnya. Meskipun
berbekal pengetahuan lokal, kelestarian hasil tegakan sengon di Desa
Tonjongsari dapat dicapai. Kelestarian hasil tersebut akan lebih baik lagi jika
diimbangi dengan pengetahuan dalam pemeliharaan sengon sesuai dengan kondisi
lahannya supaya hasil yang didapatkan lebih optimal.
4.2 Saran
Berdasarkan
hasil penelitian, faktor ketinggian tidak terlalu berpengaruh terhadap
karakteristik tegakan sengon. Hal ini disebabkan oleh kecilnya rentang
ketinggian tempat yang dibandingkan. Oleh karena itu, diperlukan rentang
perbedaan ketinggian yang lebih besar untuk mendapatkan perbedaan karakteristik
tegakan sengon.
Kelembagaan
yang berada di Desa Tonjongsari seharusnya menjadi bagian yang penting terhadap
perkembangan hutan rakyat setempat sehingga harapannya, kelembagaan yang ada di
Desa Tonjongsari dapat dikembangkan agar terjadi kemandirian dalam pengelolaan
hutan rakyat mulai dari pengadaan bibit hingga pemasaran kayu rakyat.
V. DAFTAR PUSTAKA
H. de Foresta, Kuswono A., Michon G.,
Djatmiko W.A. 2000. Ketika Kebun Berupa Hutan – Agroforest Khas Indonesia –
Sumbangan Masyarakat Bagi Pembangunan Berkelanjutan. International Centre for
Research in Agroforestry, Bogor, Indonesia; Institut de Recherche pour le
Developpement, France; dan Ford Foundation, Jakarta, Indonesia.
Husch B., Beers T.W., Kershaw J.A.
2003. Forest Mensuration 4th ed. Canada : Wiley.
Krisnawati
H., Varis E., Kallio M., Kanninen M.
2011. Paraserianthes falcataria (L)
Nielsan: Ekologi, silvikultur dan produktivitas. Bogor : CIFOR, Indonesia.
Persaki. 2010. Membedah Keberhasilan Hutan
Rakyat. vol 13 edisi Pebruari 2010 hal 29. Jakarta : Pusat Informasi Kehutanan..